Bekasi – Mangrove Tag. Dalam rangka memastikan upaya rehabilitasi mangrove berjalan dengan optimal, Mangrove Tag kembali melaksanakan pemantauan mangrove yang telah ditanam beberapa bulan yang lalu. Pemantauan jangka panjang ini dilaksanakan pada hasil kegiatan Program Pendampingan Penanaman dan Pemantauan 5.000 Bibit Mangrove kepada PT Perusahaan Gas Negara (PT PGN) Tbk. (26-28/8/2026).
Pemantauan Mangrove PT PGN di Bekasi
Pemantauan kali ini merupakan pemantauan ketiga atau pemantauan bulan ke-9 setelah penanaman mangrove. Kegiatan penanaman dilaksanakan di tiga lokasi, yaitu pesisir Desa Pantai Bahagia dan Ujung Beting di Muara Gembong, serta pesisir Desa Hurip Jaya di Babelan.
Pemantauan ini merupakan bagian dari pemantauan utama jangka panjang yang dilakukan oleh Mangrove Tag. Selain itu, kelompok tani di masing-masing wilayah tetap melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan bibit mangrove dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Pemantauan Bulan ke-9 di Tiga Lokasi Pesisir Bekasi
Melalui pemantauan utama ini, kondisi bibit mangrove diamati secara lebih mendetail untuk mengetahui perkembangan pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidupnya setelah ditanam. Kegiatan pemantauan mangrove terdiri atas kegiatan monitoring dan evaluasi (monev). Monev diawali dengan menghitung jumlah bibit tumbuh dan gagal tumbuh guna mengetahui persentase kelulushidupan (survival rate), ketinggian bibit mangrove guna menghitung persentase pertumbuhan (growth rate), dan dokumentasi kondisi terkini bibit mangrove.

Kondisi bibit mangrove di pesisir Balubuk, Desa Pantai Bahagia.
Kegiatan selanjutnya adalah melakukan pemantauan, penilaian, dan evaluasi terhadap kondisi bibit mangrove. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan terkini bibit mangrove, mendeteksi gangguan sejak dini, seperti serangan hama, abrasi, dan perubahan kondisi lingkungan, serta menilai efektivitas metode penanaman yang diterapkan.
Hasil pemantauan tersebut kemudian digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menilai keberhasilan kegiatan rehabilitasi mangrove yang telah dilaksanakan.
Implementasi Pemantauan Mangrove oleh Mangrove Tag
Proses pemantauan kali ini, Mangrove Tag diwakili oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan M. Ryan Setiawan (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) yang dilaksanakan di tiga tempat berbeda di pesisir Utara Bekasi.
“Pada hari ini, kami dari tim Mangrove Tag kembali melaksanakan pemantauan jangka panjang terhadap bibit mangrove yang telah ditanam sembilan bulan yang lalu di tiga tempat berbeda di pesisir Kabupaten Bekasi. Lokasi pertama dan kedua berada di Kecamatan Muara Gembong, yaitu di pesisir Ujung Beting dan Balubuk, Desa Pantai Bahagia. Kemudian, lokasi ketiga berada di pesisir Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan,” Jelas Agape. “Masing-masing lokasi memiliki jumlah bibit ditanam yang berbeda. Lokasi pesisir Balubuk sebanyak 3.550 bibit, pesisir Ujung Beting 250 bibit, dan pesisir Hurip Jaya sebanyak 1.200 bibit, dengan jumlah keseluruhan 5.000 bibit mangrove,” jelasnya lebih lanjut.

Kondisi bibit mangrove di pesisir Ujung Beting, Desa Pantai Bahagia.
Pemantauan Mangrove untuk Rehabilitasi Pesisir Berkelanjutan
Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa kondisi bibit mangrove yang sudah ditanam berhasil tumbuh baik, dengan rata-rata persentase kelulushidupan sebesar 82,34%. Hasil ini didapatkan dari jumlah bibit yang berhasil tumbuh, di mana terdapat penyulaman bibit mangrove di lokasi pesisir Hurip Jaya. Persentase kelulushidupan tersebut merupakan hasil rata-rata dari ketiga tempat yang dipantau, di antaranya sebesar 78,73% di pesisir Balubuk, 83,60% di pesisir Ujung Beting, dan 92,75% di pesisir Desa Hurip Jaya.
Sedangkan nilai rata-rata persentase pertumbuhan bibit mangrove di tiga tempat mencapai 80,79% setelah enam bulan dari tinggi bibit pada saat penanaman.
Nilai tersebut menunjukkan bahwa persentase kelulushidupan dan persentase pertumbuhan bibit mangrove di tiga tempat termasuk dalam kategori yang baik, yang didasarkan pada indikator keberhasilan rehabilitasi mangrove dan melihat kondisi pesisir yang dinamis serta kesempatan hasil rehabilitasi mangrove berkembang menjadi ekosistem mangrove yang lebih kompleks sebagai habitat keanekaragaman hayati.

Kondisi bibit mangrove di pesisir Desa Hurip Jaya.
“Hasil pemantauan bulan ke-9 ini menunjukkan nilai yang baik, di mana persentase kelulushidupan sebesar 82,34% dari jumlah bibit yang tumbuh di tiga lokasi penanaman. Kemudian, persentase pertumbuhan meningkat sebesar 80,79% dari tinggi bibit di awal penanaman,” kata Ryan. “Hasil menunjukkan nilai yang baik, harapannya nilai tersebut dapat bertahan dan ke depannya bibit mangrove dapat tumbuh dengan optimal. Hasil ini juga menjadi bekal yang baik dalam proses rehabilitasi mangrove menjadi ekosistem yang lebih kompleks sebagai habitat keanekaragaman hayati,” tambahnya.
Capaian ini menunjukkan rehabilitasi mangrove telah berlangsung dengan baik dan kondisi lingkungan sangat mendukung adaptasi dan pertumbuhan bibit di lapangan. Meskipun demikian, tetap diperlukan upaya pemantauan lanjutan dan evaluasi secara berkala untuk memastikan pertumbuhan mangrove dapat terus optimal dalam proses menuju ekosistem mangrove yang lebih kompleks.
Keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik dan lancar yang ditutup dengan pendokumentasian kegiatan untuk pelaporan program rehabilitasi ekosistem mangrove. (ADM/ARH/ALA/AP).