Semarang – Mangrove Tag. Mangrove Tag kembali sukses melaksanakan program Tanam Pantau-nya, kali ini kepada PT Kalimantan Prima Persada (KPP MINING) yang menegaskan komitmennya terhadap rehabilitasi ekosistem pesisir dan pembangunan berkelanjutan melalui kegiatan penanaman dan pemantauan 10.000 bibit mangrove di kawasan Tambak Gojoyo, Desa Wedung, Kabupaten Demak. (12–13&19/12/2025).
Sebanyak 10.000 bibit mangrove dengan jenis Rhizophora mucronata ditanam di kawasan tambak pesisir sebagai bagian dari komitmen tahun kedua KPP MINING dalam rehabilitasi lingkungan.
Pada kegiatan yang sama, Mangrove Tag juga mendukung dilakukannya pelepasan 75.000 benih udang vannamei (Litopenaeus vannamei), sebagai upaya mendorong keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir melalui penguatan sektor budidaya perikanan.
Program ini merupakan implementasi pilar lingkungan KPP MINING yang berfokus pada praktik berkelanjutan, sekaligus bagian dari upaya perusahaan dalam menekan jejak emisi karbon dan memulihkan fungsi ekologis kawasan pesisir.

Penanaman bibit mangrove tahap awal oleh KPP MINING dan mitra.
Pada tanggal 12 dan 13 Desember 2025, dilaksanakan penanaman tahap awal oleh KPP MINING dibantu oleh Mangrove Tag dan Kelompok Tani Onggojoyo Jaya dan pada tanggal 19 Desember dilaksanakan kegiatan penebaran benih udang.
Terapkan Metode Silvofishery
Penanaman mangrove yang dibantu Kelompok Tani Onggojoyo Jaya di Tambak Gojoyo dilakukan dengan menerapkan metode wanamina (silvofishery), yakni sistem budidaya perikanan yang mengintegrasikan pelestarian mangrove dalam satu kawasan tambak. Metode ini tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan alami pesisir dan penyangga kualitas perairan tambak, tetapi juga menyediakan habitat dan sumber nutrisi alami bagi biota budidaya seperti udang.
Melalui pendekatan silvofishery, mangrove diposisikan sebagai komponen utama ekosistem yang direhabilitasi dan dipertahankan, sementara aktivitas budidaya perikanan dijalankan dengan memperhatikan keseimbangan ekologis jangka panjang.

Penebaran benih udang sebagai upaya tingkatkan ekonomi pesisir.
Tahapan Penanaman dan Pemantauan
Pada tahap awal, telah dilakukan penanaman sebanyak 7.000 bibit mangrove atau sekitar 70 persen dari total bibit yang disiapkan. Sisa 30 persen bibit direncanakan untuk ditanam pada tahap pemantauan bulan ketiga sebagai strategi untuk menjaga tingkat keberhasilan penanaman dan mendukung pertumbuhan mangrove secara optimal.
Pada tahap pemantauan tersebut, akan dilakukan kegiatan penyulaman menggunakan 30 persen bibit yang telah disiapkan untuk mengganti bibit mangrove yang gagal tumbuh. Selanjutnya, dilakukan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) guna menilai keberhasilan penanaman serta memastikan mangrove dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Kolaborasi untuk Ekosistem dan Masyarakat Pesisir
Manajer Keuangan dan Operasional IKAMaT, Faradian N. Hapsari, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kolaborasi lintas pihak untuk menjaga ekosistem pesisir sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat.
“IKAMaT merupakan organisasi nirlaba yang bertujuan meningkatkan kesehatan ekosistem mangrove dan mewujudkan kemakmuran masyarakat pesisir. Melalui unit bisnis kami, Mangrove Tag, kami melakukan pendampingan penanaman dan pemantauan mangrove, sekaligus mendukung penebaran benih udang di Tambak Gojoyo, Demak,” ujar Faradian. “Kami mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak, khususnya KPP MINING dan Kelompok Tani Onggojoyo Jaya. Kegiatan ini menjadi upaya bersama dalam menjaga ekosistem pesisir dan mendukung keberlanjutan tambak di wilayah ini,” tambahnya.

Hasil penanaman 10.000 bibit mangrove oleh KPP MINING di Demak.
Sementara itu, Corporate Social Responsibility (CSR) Deputy Manager KPP MINING, Daniel A. Sembara, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam rehabilitasi ekosistem pesisir.
“KPP MINING melanjutkan komitmen penanaman mangrove yang telah dimulai sejak tahun 2024. Pada tahun pertama, kami menanam 10.000 bibit mangrove di Semarang, dan pada tahun kedua ini kami kembali menanam 10.000 bibit mangrove di Tambak Gojoyo, Demak,” jelas Daniel. “Melalui metode silvofishery, kami mengintegrasikan pelestarian mangrove dengan aktivitas perikanan. Selain penanaman mangrove, kami juga melakukan penebaran 75.000 benih udang. Kami berharap program ini memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” lanjutnya.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar dan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama. (ADM/ARH/RS/AP).