Proses penghitungan bibit berhasil tumbuh dan gagal tumbuh.

Bisa Hapus Jejak Emisi Karbon di Bumi, Hasil Pemantauan-Mangrove Mangrove Tag Agustus 2025: Persentase Kelulushidupan Bibit Mangrove BEM FEB Universitas Diponegoro di SMC Jateng, Semarang Capai 92,67%

Semarang – Mangrove Tag. Mangrove Tag kembali melaksanakan program pemantauan mangrove di Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng). Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi bibit mangrove hasil dari program pendampingan penanaman dan pemantauan 150 bibit mangrove yang sudah dilakukan oleh Mangrove Tag kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (UNDIP), dalam rangka kegiatan Sinergi Harmonis dan Tanggung Jawab Insani (SEHATI) yang merupakan pre-event program kerja dari Divisi Seni dan Olahraga (SENIORA), yaitu Economic Championship (Ecochamp) 2025, tiga bulan waktu yang lalu. (24/8/2025).  

Mangrove Tag yang diwakili oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Bambang J. Laksono (Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan) mulai melakukan pemantauan, yaitu monitoring dan evaluasi (monev) pada pukul 09.00 WIB.  

Kegiatan monev bibit mangrove merupakan proses pengawasan untuk menilai keberhasilan program rehabilitasi mangrove. Proses ini mencakup pengamatan terhadap jumlah bibit yang berhasil tumbuh dan gagal tumbuh, penghitungan persentase kelulushidupan (survival rate), dan penghitungan persentase pertumbuhan (growth rate) bibit mangrove di lokasi penanaman. 

Hasil dan data yang diperoleh menjadi dasar untuk mengevaluasi efektivitas metode penanaman dan menentukan langkah perbaikan, seperti penyulaman bibit yang mati untuk memastikan keberhasilan rehabilitasi ekosistem mangrove. 

Proses penyulaman bibit mangrove.

Pemantauan ini bertujuan untuk mengenali potensi masalah sejak awal, misalnya serangan hama, abrasi, atau faktor lingkungan yang kurang ideal. Lebih lanjut, data hasil pemantauan dimanfaatkan untuk menilai dan meningkatkan metode penanaman agar lebih optimal. Informasi yang terkumpul juga menjadi acuan untuk laporan dan pertanggungjawaban kepada pihak terkait. 

“Hari ini kami melaksanakan kegiatan pemantauan bibit mangrove untuk BEM FEB UNDIP yang telah ditanam di area silvofishery tiga bulan yang lalu. Dari 150 bibit mangrove yang telah ditanam tiga bulan yang lalu, didapatkan hasil bahwa terdapat 139 bibit yang dapat tumbuh dan 11 bibit yang gagal tumbuh sehingga persentase kelulushidupan mencapai 92,67%. Selain itu, persentase pertumbuhan bibit yang telah ditanam mencapai 73,49%,” ujar Agape. “Hasil tersebut menandakan bahwa bibit mangrove yang telah ditanam tumbuh dalam kondisi yang baik dan pertumbuhan tinggi yang sangat signifikan,” tambahnya.  

Silvofishery merupakan sistem pemanfaatan lahan pesisir yang mengintegrasikan kegiatan budidaya perikanan (tambak) dengan penanaman mangrove secara bersamaan. Tujuan dari sistem ini adalah untuk meningkatkan produktivitas tambak sekaligus menjaga fungsi ekologis mangrove. 

Kondisi bibit setelah tiga bulan penanaman.

Dalam praktiknya, sebagian area tambak dimanfaatkan untuk memelihara ikan, udang, atau kepiting, sementara sebagian lainnya ditanami mangrove. Sistem ini memberikan berbagai keuntungan, di antaranya memperbaiki kualitas air tambak, mengurangi erosi tanggul, dan menyediakan habitat alami bagi biota perairan. 

Selain itu, tambak tetap menghasilkan komoditas perikanan yang dapat dipanen sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian, silvofishery mampu menggabungkan fungsi konservasi dan produksi dalam satu kawasan pesisir, menjadikannya solusi yang berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya pesisir. 

Keseluruhan kegiatan yang berakhir pada pukul 11.00 WIB ini berjalan dengan baik dan lancar yang diakhiri dengan pendokumentasian kegiatan di lapangan untuk pembuatan laporan. (ADM/ARH/BJL/AP).