Bisa Hapus Jejak Emisi Karbon di Bumi, Hasil Pemantauan-Mangrove Mangrove Tag Januari 2024: Persentase Kelulushidupan Bibit Mangrove SPE JIS dan SPE UNDIP SC di SMC Jateng, Semarang Capai 59,50%

Semarang – Mangrove Tag. Mangrove Tag kembali melakukan program pemantauan mangrove di Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng). Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi bibit mangrove hasil dari program pendampingan penanaman dan pemantauan 200 bibit mangrove yang sudah dilakukan oleh Mangrove Tag kepada Society of Petroleum Engineers (SPE) Java Indonesia Section (JIS) dan SPE Universitas Diponegoro (UNDIP) Student Chapter (SC), tiga bulan waktu yang lalu. (14/1/2024).

Mangrove Tag yang diwakili oleh Ega N. B. Utami (Staf Manajer Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Anggoro D. B. Saputro (Staf Manajer Keuangan dan Operasional) mulai melakukan pemantauan, yaitu monitoring dan evaluasi (monev) pada pukul 09.00 WIB.  

Kegiatan monev bibit mangrove merupakan proses pengawasan dan penilaian terhadap kondisi mangrove yang telah ditanam. Kegiatan ini mencakup pengamatan terhadap jumlah bibit yang berhasil tumbuh maupun yang gagal tumbuh, persentase kelulushidupan (survival rate), persentase pertumbuhan tinggi (growth rate), dan jumlah daun pada setiap bibit mangrove di lokasi penanaman tertentu. 

Salah satu bibit yang dipantau tampak segar dan hijau.

Kegiatan ini juga berfungsi untuk mengidentifikasi masalah sejak dini, seperti gangguan hama, abrasi, atau kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Selain itu, hasil pemantauan digunakan untuk mengevaluasi dan memperbaiki metode penanaman agar lebih efektif. Data yang diperoleh juga menjadi dasar pelaporan dan pertanggungjawaban kepada pihak terkait. 

“Dari 200 bibit mangrove yang telah ditanam tiga bulan yang lalu, didapatkan hasil bahwa terdapat 119 bibit yang dapat tumbuh dan 81 bibit yang gagal tumbuh sehingga persentase kelulushidupan mencapai 59,50%. Selain itu, persentase pertumbuhan bibit yang telah ditanam mencapai 5,56%,” ujar Bambang. “Hasil tersebut menandakan bahwa bibit mangrove yang telah ditanam tumbuh dalam kondisi yang baik dan pertumbuhan tinggi yang kurang signifikan,” tambahnya.  

Bibit mangrove hasil pemantauan penanaman di area tambak.

Pertumbuhan mangrove di kawasan tambak cenderung lebih lambat dibandingkan di wilayah pesisir yang terlindung terutama disebabkan oleh tingginya fluktuasi salinitas. Hal ini terjadi akibat perubahan pola pengisian dan pengeringan air tambak yang menyebabkan kadar garam di tanah dan air menjadi tidak stabil. Ketidakstabilan salinitas tersebut mengganggu proses fisiologis mangrove terutama pada fase awal pertumbuhan bibit yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan. 

Keseluruhan kegiatan yang berakhir pada pukul 10.00 WIB ini berjalan dengan baik dan lancar yang diakhiri dengan pendokumentasian kegiatan di lapangan untuk pembuatan laporan. (ADM/ARH/ENBU/AP).