Semarang – Mangrove Tag. Mangrove Tag kembali melakukan program pemantauan mangrove di Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng). Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi bibit mangrove hasil dari program pendampingan penanaman dan pemantauan 150 bibit mangrove yang sudah dilakukan oleh Mangrove Tag kepada PT Bantu Indonesia Bersama dan PT Tara Bhaskara Aevitas, beberapa waktu yang lalu. (15/4/2024).
Mangrove Tag yang diwakili oleh Ega N. B. Utami (Staf Manajer Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Anggoro D. B. Saputro (Staf Manajer Keuangan dan Operasional) mulai melakukan monitoring dan evaluasi (monev) pada pukul 09.00 WIB.
Kegiatan pemantauan yang terdiri atas monitoring dan evaluasi (monev) dan penyulaman bibit mangrove hasil penanaman adalah kegiatan yang harapannya dapat mengetahui kondisi, perkembangan, dan keberhasilan dari penanaman mangrove yang telah dilakukan.
Secara lebih spesifik, tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan ini, antara lain pengamatan terhadap jumlah bibit yang berhasil tumbuh maupun yang gagal tumbuh, persentase kelulushidupan (survival rate), persentase pertumbuhan tinggi (growth rate), jumlah daun, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, mendeteksi dini permasalahan seperti serangan hama, pencemaran, atau kerusakan akibat aktivitas manusia atau alam pada setiap bibit mangrove, dan melakukan penyulaman terhadap bibit yang gagal tumbuh di lokasi penanaman tertentu.
Bibit hasil pemantauan dengan daun yang sudah tumbuh signifikan.
“Hari ini kami memantaukan 1.500 bibit mangrove yang telah ditanam tiga bulan lalu bersama PT Bantu Indonesia Bersama dan PT Tara Bhaskara Aevitas. Dari 1.500 bibit mangrove yang telah ditanam tiga bulan yang lalu, didapatkan hasil bahwa terdapat 920 bibit yang dapat tumbuh dan 580 bibit yang gagal tumbuh sehingga persentase kelulushidupan mencapai 61,33%,” ujar Ega. “Selain itu, persentase pertumbuhan bibit yang telah ditanam mencapai 37,5%. Hasil tersebut menandakan bahwa bibit mangrove yang telah ditanam tumbuh dalam kondisi yang baik dan pertumbuhan tinggi yang signifikan,” tambahnya.
Kegiatan penanaman bibit mangrove disesuaikan dengan lokasi yang sesuai dengan habitat mangrove, antara lain berada di daerah yang terkena pasang surut, terlindung, iklim tropis dan subtropis, substrat yang sesuai, dan disinari matahari sepanjang tahun. Syarat hidup mangrove yang dapat dipenuhi harapannya dapat meperbesar persentase kelulushidupan dan persentase pertumbuhan.
Namun, daerah pesisir tempat penanaman mangrove merupakan wilayah yang sangat dinamis karena dipengaruhi oleh berbagai faktor alam dan aktivitas manusia. Dinamika utama dipicu oleh pasang surut air laut yang terjadi akibat gaya gravitasi bulan dan matahari yang menyebabkan perubahan periodik permukaan laut serta memengaruhi genangan dan pengeringan lahan.
Selain itu, arus laut, gelombang, dan aliran air tawar dari sungai ikut berperan penting dalam proses erosi, sedimentasi, dan distribusi nutrien dan sedimen di zona pesisir. Cuaca dan iklim, termasuk curah hujan, angin muson, dan perubahan suhu juga memengaruhi karakteristik fisik wilayah ini sementara perubahan iklim global dapat menyebabkan kenaikan muka air laut dan pergeseran pola pasang surut.
Bibit mangrove hasil pemantauan setelah tiga bulan penanaman.
Aktivitas manusia seperti reklamasi, pembangunan pesisir, dan konversi lahan mangrove dapat mempercepat perubahan, menambah kompleksitas, dan tekanan terhadap kestabilan ekosistem pesisir. Kombinasi dari seluruh faktor ini menjadikan daerah pasang surut sebagai kawasan yang terus berubah dan memerlukan pengelolaan yang adaptif serta berkelanjutan.
“Bibit mangrove harapannya dapat tumbuh dengan baik dan beradaptasi dengan lingkungan pesisir yang sangat dinamis,” ujar Anggoro. “Lingkungan yang dinamis akan sangat memengaruhi persentase kelulushidupan dan pertumbuhan dari setiap bibitnya. Oleh karena itu, kami mengajak seluruh lapisan masyarakat agar dapat melestarikan lingkungan dan ekosistem mangrove,” tambahnya.
Keseluruhan kegiatan yang berakhir pada pukul 10.00 WIB ini berjalan dengan baik dan lancar yang diakhiri dengan pendokumentasian kegiatan di lapangan untuk pembuatan laporan. (ADM/ARH/ENBU/AP).