Pemantauan mangrove PT IMIP di Brebes pada bulan ke-12 dengan kelulushidupan 51,59 persen.

Dukung Rehabilitasi Ekosistem Pesisir Berkelanjutan, Hasil Pemantauan-Mangrove Bulan ke-12 Mangrove Tag Agustus 2026: Persentase Kelulushidupan Mangrove PT IMIP di Brebes Capai 51,59%

Brebes – Mangrove Tag. Dalam rangka memastikan upaya rehabilitasi mangrove dapat bertumbuh menjadi ekosistem kompleks yang baik, upaya tersebut harus dilaksanakan kegiatan lanjutan berupa pemantauan mangrove jangka panjang. Oleh karena itu, Mangrove Tag kemudian melaksanakan kegiatan pemantauan jangka panjang. Hal ini yang dilakukan dalam kegiatan Pendampingan Penanaman dan Pemantauan 30.000 Bibit Mangrove kepada PT Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP) yang telah ditanam setahun yang lalu. (12/8/2026).

Pemantauan Mangrove Jangka Panjang dalam Memastikan Pemulihan Ekosistem

Pemantauan jangka panjang merupakan upaya penting untuk memastikan mangrove yang ditanam dapat bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang dengan baik. Pemantauan ini juga bertujuan meningkatkan potensi terbentuknya ekosistem mangrove yang utuh dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat di sekitarnya.

Setiap bibit mangrove yang ditanam diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem yang berkembang secara alami. Seiring pertumbuhannya, kawasan rehabilitasi diharapkan mampu mendukung keberadaan spesies tumbuhan lain serta menjadi habitat bagi berbagai jenis fauna di dalam maupun di sekitar kawasan.

Dengan demikian, keberhasilan pelestarian dan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan mangrove, serta kemampuannya membentuk ekosistem yang kompleks dan berfungsi optimal sebagai habitat bagi keanekaragaman hayati.

Pemantauan Mangrove PT IMIP di Brebes

Dengan demikian, dalam Program Tanam Pantau PT IMIP yang telah dilaksanakan setahun yang lalu dilaksanakan dan diimplementasikan oleh Tim Mangrove Tag yang diwakili oleh Bambang J. Laksono (Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) bersama Kelompok Masyarakat Pelestari Hutan Pesisir (KMPHP) Mangrove Sari.

Proses pemantauan Mangrove Tag dibantu dengan penginderaan jauh.

Bambang menyampaikan bahwa pemantauan kali ini dilaksanakan untuk memastikan bibit mangrove dapat terus dipantau dan dievaluasi pertumbuhannya dalam proses menuju terbentuknya ekosistem yang lebih kompleks. Hasil pemantauan sebelumnya telah menunjukkan adanya pertumbuhan mangrove secara alami di lokasi penanaman, sehingga harapannya pada pemantauan kali ini lokasi penanaman dapat bertumbuh menjadi lebih kompleks.

Pertumbuhan mangrove alami tersebut dimungkinkan terjadi karena substrat di lokasi semakin kuat dengan adanya mangrove yang telah ditanam. Selain itu, buah mangrove alami yang terbawa oleh arus dapat terperangkap di lokasi karena keberadaan bibit mangrove yang telah ditanam.

Pemantauan Menggunakan Bantuan Penginderaan Jauh

“Pada pemantauan kali ini, akan dilaksanakan pemantauan bulan ke-12, di mana pemantauan ini merupakan pemantauan setelah dilaksanakan penanaman mangrove setahun yang lalu. Harapannya dalam waktu satu tahun, upaya rehabilitasi ini dapat menumbuhkan ekosistem mangrove yang lebih kompleks dari sebelumnya hanya lahan kosong,” kata Bambang. “Kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi monev, dengan mengambil data mangrove yang berhasil tumbuh dan gagal tumbuh serta pengukuran rata-rata tinggi mangrove. Selain itu, kegiatan pemantauan juga didukung dengan teknologi penginderaan jauh menggunakan drone. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis menggunakan SIG sehingga hasil pemantauan menjadi lebih komprehensif dan akurat,” lanjutnya.

Kegiatan pemantauan terdiri atas, monitoring dan evaluasi (monev) yang bertujuan untuk menilai keberhasilan penanaman sekaligus memastikan mangrove dapat tumbuh secara optimal. Monev dilakukan dengan mengamati jumlah propagul mangrove yang berhasil tumbuh dan gagal tumbuh, persentase kelulushidupan (survival rate), serta persentase pertumbuhan tinggi (growth rate) mangrove.

Kondisi lokasi lahan rehabilitasi berproses menjadi ekosistem.

Selain itu, proses pemantauan juga didukung dengan teknologi penginderaan jauh, yaitu penggunaan drone untuk memperoleh data lapangan yang lebih luas dan detail. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) sehingga hasil pemantauan menjadi lebih akurat dan dapat digunakan sebagai dasar evaluasi kegiatan rehabilitasi mangrove selanjutnya.

Pemantauan Mangrove PT IMIP di Brebes: Kelulushidupan Capai 51,59%

Hasil monev menunjukkan nilai persentase kelulushidupan sebesar 51,59% dengan rincian sebanyak 15.476 bibit berhasil tumbuh dan 14.524 bibit gagal tumbuh. Nilai tersebut mengalami penurunan karena pengaruh dinamisnya kondisi di lokasi penanaman, yaitu kondisi perubahan pasang surut, perubahan arah angin, dan gelombang tinggi.

Sementara itu, persentase pertumbuhan mangrove tercatat sebesar 142,25% dengan rata-rata tinggi 86 cm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa lokasi penanaman terus mengalami perkembangan menuju terbentuknya ekosistem mangrove yang lebih kompleks, ditandai dengan meningkatnya keanekaragaman hayati di dalamnya.

Harapannya, lokasi penanaman dapat berkembang menjadi ekosistem mangrove yang sehat dan kompleks sehingga mampu menyediakan habitat yang sesuai bagi berbagai jenis flora dan fauna serta mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir.

Keseluruhan kegiatan penanaman dan pemantauan mangrove berlangsung dengan baik dan lancar yang ditutup dengan pendokumentasian kegiatan untuk pelaporan kepada mitra. (ADM/ARH/ BJL/AP).