Demak – Mangrove Tag. Mangrove Tag kembali sukses melaksanakan kegiatan pemantauan mangrove untuk mangrove hasil Program Pendampingan Penanaman dan Pemantauan 1.000 Bibit Mangrove kepada PT Permata Karya Jasa (PERKASA) di SMC Jateng, Semarang dengan tindakan lanjutan berupa relokasi mangrove. Pemantauan kali ini merupakan pemantauan yang dilaksanakan dua tahun setelah pemantauan, yaitu pada bulan ke-24. (25/4&12/5/2026).
Skema penanaman yang dilaksanakan oleh PERKASA dua tahun yang lalu adalah Tebus Karbon. Bibit mangrove yang telah ditanam harapannya dapat membantu menyerap dan menyimpan karbon baik di biomassa maupun di sedimennya. Hal ini dikarenakan kemampuan penyimpanan karbon ekosistem mangrove yang tiga hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan biasa.
Langkah ini menjadi upaya dalam menebus jejak emisi karbon di bumi dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim yang terjadi. Selain itu, bibit mangrove yang telah ditanam diusahakan dapat memiliki kelulushidupan yang sempurna, yaitu 100%.
Hal ini memungkinkan bibit mangrove dapat menyimpan karbon dengan lebih efektif serta memiliki potensi maksimal berkembang menjadi ekosistem mangrove yang lebih kompleks sebagai tempat keanekaragaman hayati berkembang dan berada.

Proses penanaman bibit mangrove hasil relokasi.
Apabila terdapat bibit mangrove yang mengalami kegagalan tumbuh akan dilaksanakan kegiatan penyulaman, yaitu penggantian bibit gagal tumbuh dengan bibit yang baru.
Skema Tebus Karbon memiliki tiga kegiatan utama pemantauan, di antaranya kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) dengan tujuan untuk menilai keberhasilan penanaman dan memastikan bibit tumbuh optimal, penyulaman yang bertujuan untuk mengganti bibit yang gagal tumbuh dengan bibit baru, dan pengambilan data estimasi simpanan karbon dengan metode Tier-3.
Pemantauan Mangrove Sebagai Identifikasi Masalah
Kegiatan ini juga berfungsi untuk mengidentifikasi masalah sejak dini, seperti gangguan hama, abrasi, atau kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Selain itu, hasil pemantauan digunakan untuk mengevaluasi dan memperbaiki metode penanaman agar lebih efektif. Data yang diperoleh juga menjadi dasar pelaporan dan pertanggungjawaban kepada pihak terkait.
Mangrove Tag yang diwakili oleh Bambang J. Laksono (Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Fitriya A. Setyani (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) yang mulai melakukan pemantauan pada pukul 08.00 WIB.

Hasil penanaman bibit mangrove tindakan lanjutan relokasi.
Relokasi Mangrove: Tindakan Lanjutan setelah Pemantauan Bulan ke-24
Hasil dari kegiatan ini menunjukkan perubahan arah angin, perubahan curah hujan, dan perubahan pasang surut memberikan pengaruh langsung terhadap pertumbuhan mangrove. Faktor-faktor seperti curah hujan tinggi, intensitas pasang surut, serta tingginya gelombang dapat menimbulkan gangguan fisik di area penanaman.
Gangguan tersebut mengubah karakteristik substrat, mengurangi kandungan nutrien yang dibutuhkan mangrove, serta menyebabkan gagal tumbuh pada bibit mangrove bulan ke-24. Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah evaluasi dan tindakan lanjutan terhadap bibit-bibit yang gagal tumbuh yang disebabkan oleh kondisi lingkungan pesisir yang ekstrem dan tidak stabil.
Salah satu tindakan lanjutan yang direkomendasikan oleh Mangrove Tag adalah relokasi mangrove. Relokasi mangrove dilakukan dengan cara menanam kembali bibit mangrove di lokasi yang lebih sesuai, menggunakan jumlah bibit yang sama seperti penanaman awal, namun dengan bibit yang baru.

Proses pemantauan awal bibit mangrove hasil relokasi.
“Tim Mangrove Tag pada tanggal 24 April 2026 telah melaksanakan pemantauan kepada bibit mangrove yang telah ditanam dua tahun yang lalu. Hasil menunjukkan bibit mangrove mengalami kegagalan untuk tumbuh setelah berumur 18 bulan, hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan pesisir yang ekstrem dan tidak stabil, salah satunya berupa pengaruh angin muson barat yang terjadi di Januari hingga Februari 2026,” kata Bambang. “Oleh karena itu, dilaksanakan tindakan lanjutan berupa relokasi yang dilaksanakan pada tanggal 12 Mei 2026 di lokasi yang lebih sesuai dan memiliki potensi ancaman yang lebih kecil dibandingkan lokasi semula,” lanjutnya.
Fitriya juga menyampaikan terima kasih kepada PERKASA yang telah ikut serta dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim melalui penanaman mangrove. Melalui pemantauan ini, diharapkan rehabilitasi mangrove yang dilakukan dengan berbagai evaluasi dan tindakan lanjutan yang dilaksanakan dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam mendukung upaya tersebut.
Keseluruhan kegiatan pemantauan mangrove berlangsung dengan baik dan lancar yang ditutup dengan pendokumentasian kegiatan untuk pelaporan kepada mitra. (ADM/ARH/BJL/AP).