Semarang – Mangrove Tag. Seperti yang kita ketahui, mangrove merupakan salah satu tumbuhan penting di daerah intertidal atau pasang surut yang membentuk ekosistem yang penting juga bagi bumi. Mangrove sendiri merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki peran sangat penting bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, upaya pelestarian mangrove tidak berhenti pada kegiatan penanaman saja, tetapi juga perlu dilanjutkan dengan pemantauan secara berkala. (19/5/2026).
Kegiatan pemantauan mangrove dilakukan untuk memastikan bibit yang telah ditanam dapat tumbuh dengan baik, sehat, dan sesuai dengan kondisi habitatnya. Melalui pemantauan, berbagai kendala yang dapat memengaruhi pertumbuhan mangrove, seperti perubahan kondisi lingkungan, kerusakan bibit, maupun gangguan lainnya, dapat diketahui sejak dini sehingga penanganan yang tepat dapat segera dilakukan.
Oleh karena itu, Mangrove Tag kemudian melaksanakan kegiatan lanjutan dalam Program Pendampingan Penanaman dan Pemantauan 150 Bibit Mangrove Program Ayo BerAksi Telkom Indonesia di Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng), yaitu melaksanakan pemantauan bibit mangrove bulan ke-3 setelah penanaman.
Kegiatan pemantauan ini diwakili oleh Rena Sagita (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Fitriya A. Setyani (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) serta tim media, Anggoro D. B. Saputro (Staf Koordinator Operasional Media) dibantu Kelompok Ngebruk Lestari (KENARI) yang dimulai pada pukul 09.00 WIB.

Proses monev dari bibit hasil penanam tiga bulan yang lalu.
“Hari ini kami akan melaksanakan kegiatan lanjutan dalam program pendampingan dan pemantauan mangrove, yaitu pemantauan. Pemantauan akan dilaksanakan pada bibit mangrove yang telah ditanam bersama dengan Program Ayo BerAksi Telkom Indonesia tiga bulan yang lalu,” buka Fitriya. “Dari sebanyak 150 bibit mangrove secara keseluruhan, telah ditanam 105 bibit mangrove yang merupakan 70% dari bibit keseluruhan. Hari ini akan dilaksanakan penyulaman 30% bibit mangrove sisa dalam rangka mengganti bibit yang gagal tumbuh. Selain itu, dilakukan juga monitoring dan evaluasi untuk memastikan bibit mangrove dapat tumbuh dengan maksimal dan mengurangi potensi kegagalan rehabilitasi mangrove,” jelasnya.
Metode pemantauan yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh Mangrove Tag terdiri atas dua kegiatan utama, yaitu penyulaman dan monitoring dan evaluasi (monev).
Penyulaman merupakan kegiatan mengganti bibit yang gagal tumbuh dengan bibit yang baru dari hasil penyimpanan bibit sebanyak 30% di awal program dalam rangka menjaga kelulushidupan. Metode ini terbukti sukses untuk mempertahankan persentase kelulushidupan bibit mangrove dalam rangka merehabilitasi ekosistem mangrove di wilayah pesisir yang rentan dan dinamis.
Setelah itu, dilaksanakan monev yang kemudian dibagi kembali menjadi beberapa kegiatan dengan rincian kegiatan pengambilan data bibit mangrove, seperti jumlah bibit tumbuh dan gagal tumbuh dan pengukuran ketinggian bibit mangrove penanaman dan pemantauan, yang kemudian akan diolah menjadi persentase kelulushidupan (survival rate) dan persentase pertumbuhan tinggi (growth rate) bibit mangrove.
Namun, dalam beberapa kondisi, karena wilayah pesisir bersifat sangat dinamis, Mangrove Tag melakukan metode tambahan terhadap bibit mangrove yang diperkirakan memiliki kecenderungan tidak tumbuh secara maksimal pada lokasi maupun kondisi tertentu. Hal ini dikarenakan pertumbuhan mangrove sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor kimia dan fisika lingkungan.

Proses penanaman relokasi bibit mangrove.
Dalam beberapa kasus, hasil monev penanaman menunjukkan bahwa bibit mangrove perlu direlokasi ke lokasi yang lebih aman. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bibit mangrove dapat tumbuh dan berkembang secara lebih optimal.
Relokasi merupakan langkah lanjutan yang dilakukan untuk memastikan bibit mangrove dapat tumbuh secara optimal. Tindakan ini diperlukan ketika bibit mengalami gangguan serius, seperti serangan hama atau kondisi lingkungan pesisir yang ekstrem dan tidak stabil. Dengan relokasi, diharapkan persentase kelulushidupan bibit mangrove dapat memiliki nilai yang besar.
Relokasi dilakukan dengan cara menanam kembali bibit mangrove di lokasi yang lebih sesuai, menggunakan jumlah bibit yang sama seperti penanaman awal, namun dengan bibit yang baru. Upaya ini merupakan langkah serius dari Mangrove Tag yang bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan pertumbuhan mangrove serta menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa kondisi bibit mangrove yang telah ditanam sebelumnya berada dalam kondisi yang kurang mendukung untuk tumbuh akibat gangguan hama, salah satunya dari hewan ternak yang berada di kawasan pesisir.
Melalui kegiatan relokasi tersebut, diperoleh persentase kelulushidupan bibit mangrove sebesar 100%. Hasil ini menunjukkan bahwa relokasi ke area penanaman yang lebih aman dapat menjadi langkah yang efektif untuk meningkatkan keberhasilan pertumbuhan mangrove.

Relokasi dipastikan pada lokasi baru yang lebih aman dari berbagai faktor pendukung dan berdasarkan rekomendasi kelompok.
“Hasil dari pemantauan menunjukkan bibit mangrove yang ditanam memiliki potensi untuk mengalami kegagalan. Oleh karena itu, Mangrove Tag memutuskan untuk melaksanakan kegiatan relokasi pada bibit mangrove yang telah ditanam,” ujar Rena. “Bibit mangrove telah direlokasi ke lokasi yang memiliki potensi keberhasilan lebih tinggi dari kondisi dan lokasi sebelumnya. Upaya ini dilakukan Mangrove Tag dalam rangka memastikan keberhasilan rehabilitasi mangrove di pesisir Indonesia untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang terjadi. Sebanyak 150 bibit telah berhasil ditanam kembali di lokasi yang lebih aman,” lanjutnya.
Rehabilitasi mangrove akan lebih berhasil apabila disertai dengan kegiatan pemantauan secara berkala. Upaya rehabilitasi tidak cukup hanya dilakukan melalui penanaman semata, tetapi diikuti dengan pemantauan.
Melalui rangkaian upaya tersebut, diharapkan ekosistem mangrove dapat tumbuh secara optimal sehingga mampu membantu mengurangi jejak emisi karbon di bumi sekaligus berkontribusi dalam mitigasi dampak perubahan iklim yang terjadi saat ini.
Keseluruhan kegiatan yang berakhir pada pukul 11.00 WIB ini berjalan dengan baik dan lancar yang diakhiri dengan pendokumentasian kegiatan di lapangan untuk pembuatan laporan. (ADM/ARH/RS/AP).