Bisa Tebus Jejak Emisi Karbon di Bumi, Hasil Pemantauan-Mangrove Bulan ke-6 Mangrove Tag April 2026: Persentase Kelulushidupan Bibit Mangrove PT Perusahaan Gas Negara Tbk di Bekasi Capai 81,74%

Bekasi – Mangrove Tag. Dalam rangka memastikan pertumbuhan bibit mangrove hasil Program Pendampingan Penanaman dan Pemantauan 5.000 Bibit Mangrove Kepada PT Perusahaan Gas Negara (PT PGN) Tbk yang dilaksanakan di tiga tempat yang berbeda, di antaranya di pesisir Desa Pantai Bahagia dan Ujung Beting, Muara Gembong, serta pesisir Desa Hurip Jaya, Babelan. (14–16/4/2026).

Pemantauan kali ini dilaksanakan dalam rangka memantau, menilai, dan mengevaluasi bibit mangrove pada bulan ke-6 setelah penanaman. Pemantauan bibit mangrove terdiri atas kegiatan utama, yaitu monitoring dan evaluasi (monev). 

Proses ini dilakukan secara berkala untuk mengetahui kondisi bibit, mendeteksi gangguan sejak dini, seperti serangan hama, abrasi, atau perubahan lingkungan, serta mengevaluasi efektivitas metode penanaman. 

Kondisi bibit mangrove bulan ke-6 di pesisir Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong.

Proses pemantauan kali ini, Mangrove Tag diwakili oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Anggoro D. B. Saputro (Staf Koordinator Operasional Media) yang dilaksanakan di tiga tempat berbeda di pesisir Utara Bekasi. 

Proses pemantauan bulan ke-6 berfokus pada pengambilan data berupa penghitungan bibit tumbuh dan gagal tumbuh dan pengukuran tinggi bibit setelah enam bulan. Hasil penghitungan dan pengukuran tersebut akan menghasilkan persentase kelulushidupan dan persentase pertumbuhan setelah enam bulan penanaman. 

Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa kondisi bibit mangrove yang sudah ditanam berhasil tumbuh baik, dengan persentase kelulushidupan sebesar 81,74%, nilai tersebut menunjukkan bahwa persentase kelulushidupan bibit mangrove di tiga tempat termasuk dalam kategori yang sangat baik, yang didasarkan pada indikator keberhasilan rehabilitasi mangrove dan melihat kondisi pesisir yang dinamis.

Kondisi bibit mangrove bulan ke-6 di Ujung Beting.

Persentase kelulushidupan tersebut merupakan hasil rata-rata dari ketiga tempat yang dipantau, di antaranya sebesar 92,59% di pesisir Desa Pantai Bahagia, 100% di pesisir Ujung Beting, dan 45,83% di pesisir Desa Hurip Jaya. 

Sedangkan nilai rata-rata persentase pertumbuhan bibit mangrove di tiga tempat mencapai 49,11% setelah enam bulan dari tinggi bibit pada saat penanaman. 

“Pemantauan kali ini dilaksanakan dalam rangka memastikan bibit mangrove yang telah ditanam sebelumnya dapat tumbuh dengan baik. Pemantauan dilaksanakan di tiga lokasi yang berbeda, yaitu di pesisir Desa Pantai Bahagia, Ujung Beting, dan pesisir Desa Hurip Jaya,” kata Agape. “Hasil pemantauan menunjukkan nilai yang sangat baik di mana hasil dua dari tiga lokasi yang dilaksanakan penanaman menunjukkan nilai persentase kelulushidupan di atas 90% yang masuk dalam standar keberhasilan rehabilitasi mangrove sangat baik,” jelasnya. 

Kondisi bibit mangrove bulan ke-6 di pesisir Desa Hurip Jaya, Babelan.

Lebih lanjut, berdasarkan hasil pemantauan tersebut, persentase kelulushidupan dan pertumbuhan bibit mangrove tergolong dalam kategori sangat baik. Hal ini mengacu pada standar keberhasilan kegiatan rehabilitasi mangrove, di mana persentase kelulushidupan ≥80% yang termasuk dalam klasifikasi sangat baik. 

Capaian ini menunjukkan bahwa metode penanaman sudah cukup efektif dan kondisi lingkungan sangat mendukung adaptasi dan pertumbuhan bibit di lapangan. Meskipun demikian, tetap diperlukan upaya pemantauan lanjutan secara berkala untuk memastikan pertumbuhan mangrove dapat terus optimal serta meningkatkan persentase keberhasilan pada periode berikutnya. 

Keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik dan lancar yang ditutup dengan pendokumentasian kegiatan untuk pelaporan program rehabilitasi ekosistem mangrove. (ADM/ARH/ALA/AP).