Semarang – Mangrove Tag. Dalam rangka kegiatan lanjutan Program Pendampingan Penanaman dan Pemantauan 150 Bibit Mangrove di Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng) kepada Himpunan Mahasiswa Teknologi Rekayasa Kimia Industri (HMTRKI) Sekolah Vokasi (SV) Universitas Diponegoro (UNDIP), Mangrove Tak laksanakan pemantauan bibit mangrove bulan ke-3 setelah penanaman. (2/3/2026).
Pemantauan mangrove merupakan upaya yang dilaksanakan untuk memastikan bibit mangrove yang telah ditanam dapat memiliki pertumbuhan yang baik sesuai dengan standar kelulushidupan bibit mangroove yang ada. Kegiatan pemantauan mangrove terdiri atas dua kegiatan utama, yaitu penyulaman dan monitoring dan evaluasi (monev).
Penyulaman merupakan kegiatan mengganti bibit yang gagal tumbuh dengan bibit yang baru dari hasil penyimpanan bibit sebanyak 30% di awal program dalam rangka menjaga kelulushidupan. Setelah itu, dilaksanakan monev dengan rincian kegiatan pengambilan data bibit mangrove, seperti jumlah bibit hidup dan gagal tumbuh dan ketinggian bibit mangrove yang akan diolah menjadi persentase kelulushidupan (survival rate), persentase pertumbuhan tinggi (growth rate) bibit mangrove di lokasi penanaman tertentu.
Namun, penanaman bibit mangrove di wilayah pesisir bersifat sangat dinamis karena pertumbuhannya dipengaruhi oleh berbagai faktor kimia dan fisika lingkungan. Dalam beberapa kondisi, hasil evaluasi penanaman menunjukkan bahwa bibit mangrove perlu direlokasi ke lokasi yang lebih aman. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bibit mangrove dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih optimal.
Kegiatan pemantauan dilaksanakan oleh Tim Mangrove Tag yang diwakili oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Rena Sagita (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dimulai pada pukul 09.00 WIB.
Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa kondisi bibit mangrove yang telah ditanam berada dalam keadaan kurang menguntungkan untuk tumbuh karena lokasi penanaman terdampak abrasi. Oleh karena itu, dilakukan upaya relokasi bibit ke lokasi yang lebih aman. Dari relokasi tersebut diperoleh persentase kelulushidupan bibit mangrove sebesar 60% dengan persentase pertumbuhan mencapai 4,76%.

Bibit mangrove hasil relokasi ke lokasi baru.
“Hari ini kami Tim Mangrove Tak melaksanakan kegiatan pemantauan bulan ke-3 terhadap bibit mangrove hasil penanaman HMTRKI SV UNDIP 2025. Dikarenakan kondisi lokasi awal penanaman dalam keadaan yang kurang menguntungkan, diputuskan dilakukan upaya relokasi ke tempat yang lebih aman” ujar Agape. “Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan monev berupa pengambilan data jumlah bibit hidup dan gagal tumbuh dan ketinggian bibit mangrove untuk diketahui persentase kelulushidupan dan persentase pertumbuhannya,” tambahnya.
Persentase kelulushidupan bibit mangrove dapat optimal jika didukung oleh kondisi lingkungan yang baik. Faktor-faktor yang berperan, antara lain adalah frekuensi dan durasi genangan air yang seimbang, di mana bibit mangrove terendam saat pasang dan mendapatkan oksigen saat surut sehingga dapat tumbuh dengan baik.
Selain itu, kualitas substrat yang subur dengan kandungan nutrisi yang memadai ikut mendukung pertumbuhan. Kestabilan sedimen juga berperan penting dalam memperkuat sistem perakaran sehingga bibit mangrove dapat tumbuh lebih kokoh.
Gelombang dan arus laut yang stabil membantu mengendalikan aliran air, mendukung distribusi nutrisi di sekitar akar mangrove, sementara gelombang kecil berperan dalam mencegah erosi sehingga memungkinkan bibit berkembang dengan baik.
Ketersediaan cahaya matahari yang cukup mendukung fotosintesis sehingga pertumbuhan daun dan batang lebih optimal.
Keseluruhan kegiatan yang berakhir pada pukul 11.00 WIB ini berjalan dengan baik dan lancar yang diakhiri dengan pendokumentasian kegiatan di lapangan untuk pembuatan laporan. (ADM/ARH/ALA/AP).