Pemantauan mangrove PT PGN di Lampung Timur bulan ke-9 dengan kelulushidupan 92,84 persen.

Dukung Pemantauan Rehabilitasi Pesisir Berkelanjutan, Hasil Pemantauan-Mangrove Bulan ke-9 Mangrove Tag Juli 2026: Persentase Kelulushidupan Bibit Mangrove PT Perusahaan Gas Negara Tbk di Lampung Timur Capai 92,84%

Lampung Timur – Mangrove Tag. Mangrove Tag dalam rangka memastikan Program Tanam Pantau dalam keberlanjutannya dalam rangka rehabilitasi pesisir kembali melaksanakan kegiatan pemantauan mangrove berkala. Kali ini, pemantauan mangrove dilakukan terhadap Program Tanam Pantau 5.000 bibit mangrove oleh PT Perusahaan Gas Negara (PT PGN) Tbk di pesisir Desa Muara Gading Mas, Labuhan Maringgai, Lampung Timur. (29/7/2026). 

Pemantauan Mangrove PT PGN di Lampung Timur

Pemantauan kali ini merupakan pemantauan yang dilakukan sembilan bulan setelah kegiatan Program Tanam Pantau yang dilaksanakan pada 9 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian pemantauan berkala yang dilakukan oleh Mangrove Tag secara jangka panjang untuk memastikan kegiatan rehabilitasi dapat berjalan dengan baik. 

Pemantauan bibit mangrove merupakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) yang bertujuan untuk mengetahui perkembangan bibit mangrove yang telah ditanam, termasuk persentase kelulushidupan dan pertumbuhannya. Kegiatan ini juga dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi bibit, mendeteksi gangguan sejak dini, seperti serangan hama, abrasi, dan perubahan kondisi lingkungan, serta mengevaluasi efektivitas metode penanaman yang diterapkan. 

Pemantauan Bulan ke-9 Program Tanam Pantau

Pada pemantauan bulan ke-9, pengambilan data dilakukan dengan mencatat jumlah bibit yang berhasil tumbuh dan yang gagal tumbuh untuk menghitung persentase kelulushidupan baik secara langsung maupun dengan bantuan proses analisis remote sensing. Selain itu, pengukuran tinggi bibit mangrove juga dilakukan pada sejumlah sampel untuk mengetahui perkembangan pertumbuhannya selama periode rehabilitasi. 

Metode Pemantauan Mangrove

Hasil pemantauan tersebut selanjutnya dievaluasi untuk mengetahui kondisi bibit dan lingkungan di lokasi rehabilitasi. Hasil evaluasi ini menjadi dasar dalam menentukan langkah pemeliharaan atau tindakan lanjutan yang diperlukan, sehingga pelaksanaan rehabilitasi mangrove dapat berjalan lebih efektif dan keberhasilan pertumbuhan bibit dapat ditingkatkan. 

Proses pemantauan kali ini, Mangrove Tag diwakili oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan), dengan kegiatan yang terdiri atas penyulaman dan monitoring dan evaluasi (monev). 

Kondisi mangrove tampak samping pada saat pemantauan.

Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa kondisi bibit mangrove yang sudah ditanam berhasil tumbuh dengan sangat baik, bahkan mendukung tumbuhnya mangrove alami yang lain. 

Berdasarkan hasil pemantauan 5.000 individu mangrove jenis Avicennia marina yang ditanam, diperoleh persentase kelulushidupan (survival rate) sebesar 92,84%. Hingga monitoring bulan ke-9, terdapat 358 individu mangrove yang gagal tumbuh, sehingga jumlah individu yang berhasil tumbuh sebanyak 4.642 individu. Nilai tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar bibit yang ditanam mampu bertahan dan tumbuh hingga bulan ke-9. 

Berdasarkan aspek pertumbuhan, rata-rata tinggi bibit pada awal penanaman sebesar 44,5 cm, sedangkan pada monitoring bulan ke-9 meningkat menjadi 169,2 cm. Berdasarkan nilai tersebut diperoleh nilai laju pertumbuhan (growth rate) sebesar 280,22%, yang menunjukkan adanya peningkatan tinggi tanaman yang cukup besar selama periode pemantauan. Secara sederhana, terjadi peningkatan rata-rata tinggi sekitar 124,7 cm dari tinggi awal. 

Regenerasi Alami Mangrove di Lokasi Rehabilitasi

Dalam praktiknya, penanaman bibit mangrove sering dikaitkan dengan konsep assisted succession. Assisted succession merupakan pendekatan dalam restorasi ekosistem yang bertujuan mempercepat proses suksesi alami melalui intervensi manusia secara terbatas. 

Selain tanaman hasil penanaman, diestimasi terdapat 18.975 individu Avicennia marina yang berasal dari suksesi alami. Keberadaan vegetasi suksesi alami menunjukkan bahwa lokasi penanaman memiliki kemampuan regenerasi alami yang cukup baik, sehingga tidak hanya bergantung pada kegiatan penanaman. 

Konidisi lokasi rehabilitasi dan sekitarnya dari tampak atas.

Secara keseluruhan, estimasi jumlah vegetasi mangrove pada area pemantauan mencapai 23.617 individu, yang terdiri atas 4.642 individu hasil penanaman yang tumbuh dan estimasi 18.975 individu dari suksesi alami. 

“Hari ini saya telah melaksanakan kegiatan pemantauan bulan ke-9 untuk program penanaman dan pemantauan 5.000 bibit mangrove yang dilaksanakan oleh PT PGN di pesisir Muara Gading Mas, Lampung Timur. Pemantauan kali ini terdiri dari monev terhadap bibit yang telah ditanam. Hasil yang didapatkan menunjukkan 4.642 bibit berhasil tumbuh dengan baik dengan tambahan menjadikan persentase kelulushidupannya mencapai 92,84%,” kata Agape. “Hal ini menandakan bahwa bibit yang telah ditanam dapat tumbuh secara optimal dikarenakan lokasi dan lingkungan penanaman sesuai dengan habitat aslinya. Semoga bibit yang berhasil tumbuh dengan baik ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” jelasnya. 

Pemantauan Mangrove untuk Rehabilitasi Pesisir Berkelanjutan

Agape berharap berbagai upaya rehabilitasi yang telah dilakukan dapat memberikan hasil yang optimal dan menghadirkan manfaat jangka panjang bagi lingkungan maupun masyarakat. Ekosistem mangrove tidak hanya menjadi habitat bagi beragam keanekaragaman hayati di wilayah pesisir, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam melindungi garis pantai, menjaga keseimbangan ekologi, mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, serta melestarikan nilai sosial dan budaya setempat. Selain itu, mangrove memiliki kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah besar sehingga berperan penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim. 

Melalui hasil pemantauan bulan ke-9 ini, Program Tanam Pantau yang didukung oleh PT PGN menunjukkan perkembangan positif, baik dari aspek kelulushidupan bibit hasil penanaman maupun regenerasi mangrove secara alami. Tingginya persentase kelulushidupan serta peningkatan rata-rata tinggi bibit menjadi indikator perkembangan vegetasi mangrove di lokasi rehabilitasi. Selain itu, keberadaan mangrove yang tumbuh secara alami turut mendukung pemulihan ekosistem pesisir dan memperkaya vegetasi mangrove di kawasan tersebut. 

Keseluruhan kegiatan berjalan dengan baik dan lancar yang ditutup dengan pendokumentasian kegiatan untuk pelaporan program rehabilitasi ekosistem mangrove. (ADM/ARH/ALA/AP).