Rehabilitasi mangrove Accenture Semarang melalui pemantauan bibit di SMC Jateng Semarang.

Dukung Upaya Rehabilitasi Ekosistem Pesisir Berkelanjutan, Hasil Pemantauan-Mangrove Mangrove Tag Agustus 2026: Persentase Kelulushidupan Bibit Mangrove Accenture Semarang di SMC Jateng, Semarang Capai 74,80%

Semarang – Mangrove Tag. Rehabilitasi mangrove merupakan upaya untuk memulihkan ekosistem mangrove yang mengalami kerusakan atau degradasi akibat berbagai faktor, seperti alih fungsi lahan yang tidak memperhatikan keberlanjutan lingkungan serta gangguan dari aktivitas di sekitar ekosistem. Kegiatan rehabilitasi diperlukan untuk mengembalikan fungsi dan kondisi ekosistem mangrove agar dapat mendukung kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. (24/8/2026). 

Pemantauan Bibit Mangrove Bulan ke-3 Accenture Semarang

Hal ini kemudian yang dilakukan oleh Accenture Semarang tiga bulan yang lalu, upaya rehabilitasi dilakukan dengan penanaman 250 bibit mangrove di kawasan Semarang Mangrove Center (SMC), Jawa Tengah (Jateng) dalam Program Tanam Pantau yang didampingi oleh Mangrove Tag dengan bantuan Kelompok Ngebruk Lestari (KENARI). 

Setelah tiga bulan dari upaya tersebut, kemudian dilakukan upaya pemantauan bibit mangrove dari hasil penanaman. Upaya ini dilakukan untuk memastikan bibit mangrove yang ditanam dapat tumbuh secara berkelanjutan sehingga dapat tumbuh menjadi ekosistem mangrove yang lebih kompleks. 

Pemantauan mangrove yang dilaksanakan tiga bulan setelah penanaman terdiri atas beberapa kegiatan, yaitu penyulaman dan monitoring dan evaluasi (monev). Kegiatan pertama adalah penyulaman, penyulaman dilakukan dengan mengganti bibit yang gagal tumbuh dengan bibit baru yang disimpan sebesar 30% di awal kegiatan penanaman. Harapannya dengan penyulaman ini, dapat meningkatkan keberhasilan mangrove. Hal ini dikarenakan selama tiga bulan awal penanaman mangrove adalah masa kritis dan adaptasi bibit mangrove dengan lingkungan barunya. 

Kemudian, kegiatan selanjutnya dilanjutkan dengan monev. Monev dilakukan dengan melihat secara seksama berbagai kendala yang dapat memengaruhi pertumbuhan mangrove, seperti perubahan kondisi lingkungan, kerusakan bibit, maupun gangguan lainnya, dapat diketahui sejak dini sehingga penanganan yang tepat dapat segera dilakukan. Setelah itu dilakukan evaluasi terhadap apa yang menjadi temuan di lapangan. 

Proses penghitungan tinggi bibit mangrove pada saat pemantauan.

Proses di atas dilaksanakan dalam rangka memperbesar keberhasilan upaya rehabilitasi mangrove dalam keberlanjutannya menjadi suatu ekosistem mangrove yang lebih kompleks sebagai habitat berbagai keanekaragaman hayati. 

Proses Implementasi Pemantauan Mangrove di SMC Jateng, Semarang

Oleh karena itu, Mangrove Tag kemudian melaksanakan kegiatan lanjutan dalam Program Pendampingan Penanaman dan Pemantauan 250 Bibit Mangrove yang telah dilaksanakan Accenture Semarang tiga bulan yang lalu. Kegiatan pemantauan ini diwakili oleh Bambang J. Laksono (Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Rena Sagita (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) yang dimulai pada pukul 09.00 WIB. 

“Hari ini kami melaksanakan kegiatan lanjutan dari Program Tanam Pantau yang telah dilaksanakan bersama Accenture Semarang tiga bulan yang lalu. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memastikan bibit mangrove yang telah ditanam tumbuh dengan baik dalam rangka menjadi ekosistem mangrove yang lebih kompleks sebagai tempat hidup berbagai keanekaragaman hayati,” buka Bambang. “Dari sejumlah 250 bibit mangrove secara keseluruhan, telah ditanam 175 bibit mangrove yang merupakan 70% dari bibit keseluruhan. Hari ini akan dilaksanakan penyulaman 30% bibit mangrove sisa dalam rangka mengganti bibit yang gagal tumbuh. Selain itu, dilakukan juga monitoring dan evaluasi untuk memastikan bibit mangrove dapat tumbuh dengan maksimal dan mengurangi potensi kegagalan rehabilitasi mangrove,” jelasnya. 

Metode pemantauan tersebut dikembangkan dan dilaksanakan oleh Mangrove Tag sebagai bentuk keberlanjutan dari upaya rehabilitasi mangrove yang telah mengalami degradasi selama beberapa dekade terakhir ini. 

Kondisi bibit mangrove pada saat pemantauan.

Rehabilitasi Mangrove Accenture Semarang Capai Kelulushidupan 74,80%

Dari hasil pemantauan, hasil menunjukkan dari 175 bibit mangrove yang ditanam di awal 112 bibit di antaranya dapat tumbuh dengan baik. Kemudian, dilakukan penyulaman 75 bibit mangrove yang merupakan simpanan 30% di awal. Hasil ini menunjukkan bahwa kelulushidupan menunjukkan nilai yang baik. Persentase kelulushidupan bibit mangrove mencapai 74,80% dan persentase pertumbuhan mencapai 18,37% dari tinggi bibit di awal penanaman. 

Rehabilitasi mangrove akan lebih berhasil apabila disertai dengan kegiatan pemantauan secara berkala. Upaya rehabilitasi tidak cukup hanya dilakukan melalui penanaman semata, tetapi diikuti dengan pemantauan. 

Melalui rangkaian upaya tersebut, diharapkan ekosistem mangrove dapat tumbuh secara optimal sehingga mampu menjadi ekosistem yang kompleks sebagai habitat berbagai keanekaragaman hayati. Selain itu, fungsi dan manfaatnya yang besar dapat kembali dalam melindungi wilayah pesisir yang rentan. 

Keseluruhan kegiatan yang berakhir pada pukul 11.00 WIB ini berjalan dengan baik dan lancar yang diakhiri dengan pendokumentasian kegiatan di lapangan untuk pembuatan laporan. (ADM/ARH/BJL/AP).