Pemantauan mangrove PT IMIP di Brebes dengan tingkat kelulushidupan 55,30 persen.

Hasil Pemantauan-Mangrove Bulan ke-8 Mangrove Tag Juli 2026: Persentase Kelulushidupan Mangrove PT IMIP di Brebes Capai 55,30%

Brebes – Mangrove Tag. Mangrove Tag kembali sukses melaksanakan kegiatan pemantauan mangrove jangka panjang. Pemantauan jangka panjang merupakan salah satu upaya penting untuk memastikan mangrove yang ditanam dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal dan memperbesar potensi menjadi ekosistem yang utuh. (28/7/2026). 

Keberhasilan pelestarian dan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari jumlah yang berhasil ditanam, tetapi juga dari kemampuan mangrove tersebut untuk bertahan hidup, tumbuh, dan membentuk ekosistem yang kompleks sebagai habitat bagi keanekaragaman hayati dan berfungsi secara optimal 

Pemantauan Mangrove Hasil Penanaman dan Pemantauan 30.000 Mangrove di Brebes

Oleh karena itu, dalam Program Pendampingan Penanaman dan Pemantauan 30.000 Mangrove kepada PT Indonesia Morowali Industrial Park (PT IMIP) yang telah dilaksanakan sepuluh bulan yang lalu dilaksanakan pemantauan jangka panjang. 

Hal tersebut juga bertujuan untuk memastikan bahwa penanaman mangrove yang telah dilaksanakan dapat membentuk ekosistem mangrove yang baik dan memberikan manfaat secara maksimal baik secara ekologis maupun dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim di bumi. 

Proses pengambilan sampel tinggi semai mangrove.

Ekosistem mangrove dikenal memiliki kemampuan penyimpanan karbon yang sangat besar, bahkan mampu menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan daratan. Pemantauan ini merupakan pemantauan ke-4 yang dilaksanakan dalam program. 

Secara keseluruhan, program ini mencakup enam kali pemantauan yang dilaksanakan setiap dua bulan sekali selama satu tahun. Namun, pemantauan ke-2 yang seharusnya dilaksanakan pada bulan Januari 2026 tidak dapat dilakukan karena kondisi cuaca dan gelombang yang kurang mendukung. 

Oleh karena itu, pemantauan ini yang seharusnya menjadi pemantauan ke-5 kemudian dihitung sebagai pemantauan ke-4. Dalam rangka memastikan pemantauan jangka panjang dapat terus dilaksanakan. Kali ini, Mangrove Tag akan melaksanakan kegiatan pemantauan bulan ke-10 di kawasan Mangrove Pandansari, Desa Kaliwlingi, Brebes. 

Mangrove Tag yang diwakili oleh Bambang J. Laksono (Staf Koordinator Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan Anggoro D. B. Saputro (Staf Koordinator Operasional Media) bersama Alfredo S. Ginonggom (PT IMIP) dibantu oleh Kelompok Masyarakat Pelestari Hutan Pesisir (KMPHP) Mangrove Sari mulai melakukan pemantauan pada pukul 08.00 WIB. 

Proses penghitungan jumlah bibit berhasil tumbuh.

Bambang menyampaikan bahwa pemantauan kali ini dilaksanakan untuk memastikan bibit mangrove dapat terus dipantau dan dievaluasi pertumbuhannya dalam proses menuju terbentuknya ekosistem yang lebih kompleks. 

Hasil pemantauan juga menunjukkan adanya pertumbuhan mangrove secara alami di lokasi penanaman. Pertumbuhan mangrove alami tersebut dimungkinkan terjadi karena substrat di lokasi semakin kuat dengan adanya mangrove yang telah ditanam. Selain itu, buah mangrove alami yang terbawa oleh arus dapat terperangkap di lokasi karena keberadaan bibit mangrove yang telah ditanam. 

“Mangrove Tag kembali melaksanakan kegiatan pemantauan mangrove di kawasan Mangrove Pandansari, Kaliwlingi, Brebes. Kali ini, pemantauan dilakukan pada bulan ke-10 dalam Program Pendampingan Penanaman dan Pemantauan 30.000 Mangrove kepada PT IMIP yang telah dilaksanakan pada bulan September 2025,” kata Bambang. “Kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi monev, dengan mengambil data mangrove yang berhasil tumbuh dan gagal tumbuh serta pengukuran rata-rata tinggi mangrove. Selain itu, kegiatan pemantauan juga didukung dengan teknologi penginderaan jauh menggunakan drone. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis menggunakan SIG sehingga hasil pemantauan menjadi lebih komprehensif dan akurat,” lanjutnya. 

Foto bersama dengan mangrove alami yang telah tumbuh.

Kegiatan pemantauan terdiri atas, monitoring dan evaluasi (monev) yang bertujuan untuk menilai keberhasilan penanaman sekaligus memastikan mangrove dapat tumbuh secara optimal. Monev dilakukan dengan mengamati jumlah propagul mangrove yang berhasil tumbuh dan gagal tumbuh, persentase kelulushidupan (survival rate), serta persentase pertumbuhan tinggi (growth rate) mangrove. Selain itu, proses pemantauan juga didukung dengan teknologi penginderaan jauh, yaitu penggunaan drone untuk memperoleh data lapangan yang lebih luas dan detail. 

Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) sehingga hasil pemantauan menjadi lebih akurat dan dapat digunakan sebagai dasar evaluasi kegiatan rehabilitasi mangrove selanjutnya. 

Hasil Pemantauan Mangrove Bulan ke-10 dan Kondisi Lokasi Penanaman

Hasil monev menunjukkan nilai presentase kelulushidupan sebesar 55,30% dengan rincian sebanyak 16.590 bibit berhasil tumbuh dan 13.410 bibit gagal tumbuh. Nilai tersebut mengalami penurunan karena pengaruh dinamisnya kondisi di lokasi penanaman dan gagalnya mangrove untuk bertahan dan beradaptasi. 

Kondisi lokasi penanaman pada pemantauan mangrove bulan ke-10.

Sementara itu, persentase pertumbuhan mangrove tercatat sebesar 139,44% dengan rata-rata tinggi 85 cm, naik signifikan dibanding pemantauan sebelumnya di bulan ke-8 yang hanya sebesar 71,83%. 

Hasil tersebut menunjukkan bahwa lokasi penanaman terus mengalami perkembangan menuju terbentuknya ekosistem mangrove yang lebih kompleks, ditandai dengan meningkatnya keanekaragaman hayati di dalamnya. 

Harapannya, lokasi penanaman dapat berkembang menjadi ekosistem mangrove yang sehat dan kompleks sehingga mampu menyediakan habitat yang sesuai bagi berbagai jenis flora dan fauna serta mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir. 

Keseluruhan kegiatan penanaman dan pemantauan mangrove berlangsung dengan baik dan lancar yang ditutup dengan pendokumentasian kegiatan untuk pelaporan kepada mitra. (ADM/ARH/ BJL/AP).