EVENT

Tebus Jejak Emisi Karbon Event Anda!

Pada halaman ini, Anda dapat menebus jejak emisi karbon yang sudah dihasilkan event Anda dengan cara mengonversikan jumlah jejak emisi karbon tersebut menjadi bibit mangrove yang harus ditanam dan dipantau. Berikut ini adalah mekanismenya:

1. Hitung Jumlah Jejak Emisi Karbon Event Anda

Anda dapat menghitung terlebih dahulu jumlah jejak emisi karbon event Anda, di bawah ini:

2. Hitung Jumlah Jejak Emisi Karbon Event Anda dan Konversikan Menjadi Bibit Mangrovenya

Anda dapat mengonversikan jumlah jejak emisi karbon event Anda menjadi bibit mangrove yang harus ditanam dan dipantau (tebus bibit mangrove). Masukkan jumlah jejak emisi karbon tersebut di bawah ini:

3. Hitung Potensi Serapan Jejak Emisi Karbon pada Bibit Mangrove

Anda juga dapat mengonversikan jumlah bibit mangrove yang harus event Anda tanam dan pantau (tebus bibit mangrove) menjadi potensi serapan jejak emisi karbon. Masukkan jumlah bibit mangrove di bawah ini:

4. Tentukan Nilai Kontribusi Tebus Jejak Emisi Karbon Event Anda Dengan Cara Pilih Lokasi Penanaman dan Pemantauan Anda

Setelah mendapatkan nilai pada poin (1) atau (2), Anda dipersilakan menentukan nilai kontribusi tebus jejak emisi karbon event Anda. Selanjutnya, lakukan penebusan jejak emisi karbon dengan cara melakukan kegiatan penanaman dan pemantauan mangrove di lokasi-lokasi pada poin (4).

5. Transaksi Tebus Jejak Emisi Karbon dengan Mangrove Tag

Di bawah ini adalah lokasi-lokasi penanaman dan pemantauan mangrove kami (berikut jumlah potensi serapan jejak emisi karbonnya) yang dapat Anda pilih untuk menebus jejak emisi karbon event Anda. Silakan pilih minimal satu lokasi.

  1. Banyuwangi: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 209.110 MgC/220 ha.
  2. Brebes: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 9.505 MgC/10 ha.
  3. Cilacap: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 209.110 MgC/220 ha.
  4. Demak: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 239.487,98 MgC/251,96 ha.
  5. DI Yogyakarta: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 2.851,5 MgC/3 ha.
  6. DKI Jakarta: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 265.189,5 MgC/279 ha.
  7. Jepara: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 4.752,5 MgC/5 ha.
  8. Kebumen: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 4.752,5 MgC/5ha.
  9. Kendal: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 66.535 MgC/70 ha.
  10. Kota Semarang: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 10.455,5 MgC/11 ha.
  11. Pemalang: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 28.515 MgC/30ha.
  12. Rembang: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 65.584,5 MgC/69 ha.
  13. Serang: Potensi serapan jejak emisi karbon: 950,5 MgC/ha atau 285.150 MgC/300 ha.

6. Tebus Jejak Emisi Karbon Event Anda

Setelah menentukan lokasi, Anda dapat menghubungi kami dengan cara klik TEBUS KARBON di bawah ini untuk melakukan program penanaman dan pemantauan mangrove.

7. Dapatkan Sertifikat dan Laporan

Setelah selesai melakukan program penanaman dan pemantauan mangrove, di akhir program, kami akan memberikan Sertifikat Tebus Jumlah Jejak Emisi Karbon yang sudah event Anda tebus atau konversikan dengan bibit mangrove di program penanaman dan pemantauan bibit mangrove event Anda bersama dengan kami.


A. Apakah Jejak Emisi Karbon?

Jejak emisi karbon, juga dikenal sebagai jejak karbon, mengacu pada jumlah gas rumah kaca yang dikeluarkan secara langsung atau tidak langsung oleh individu, organisasi, produk, atau kegiatan tertentu. Emisi karbon utama yang diukur dalam jejak karbon adalah karbon dioksida (CO2), tetapi juga meliputi gas lain, seperti metana (CH4) dan nitrogen oksida (N2O), yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca dan perubahan iklim.

Jejak emisi karbon dapat bervariasi dari skala individu hingga skala perusahaan atau negara. Jejak karbon individu mencakup emisi yang dihasilkan dari konsumsi energi di rumah, transportasi pribadi, dan kegiatan sehari-hari lainnya. Sementara itu, jejak karbon perusahaan meliputi emisi dari operasi bisnis, termasuk penggunaan energi, transportasi, dan rantai pasokan. Jejak karbon negara mencakup total emisi karbon yang dihasilkan oleh semua sektor di negara tersebut.

Pengukuran jejak karbon biasanya dilakukan dengan menghitung jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh kegiatan tertentu. Metrik yang umum digunakan adalah ton karbon dioksida setara (tCO2e), yang menggabungkan emisi karbon dioksida dengan gas rumah kaca lainnya berdasarkan potensi pemanasan global mereka selama periode waktu tertentu, seperti satu tahun.

Tujuan pengukuran jejak karbon adalah untuk mengidentifikasi sumber-sumber utama emisi dan mengambil tindakan untuk mengurangi atau mengompensasi emisi tersebut. Upaya pengurangan emisi meliputi efisiensi energi, penggunaan sumber energi terbarukan, perbaikan proses produksi, dan penggunaan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Pengkompensasian emisi dapat dilakukan melalui proyek-proyek yang mengurangi emisi atau menyerap karbon dari atmosfer, seperti pengembangan energi terbarukan, reboisasi, atau investasi dalam proyek karbon.

Mengurangi jejak emisi karbon menjadi semakin penting dalam upaya mengatasi perubahan iklim global dan meminimalkan dampak negatifnya. Dengan mengadopsi tindakan untuk mengurangi emisi karbon, individu, organisasi, dan negara dapat berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim dan mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon.

B. Apakah Tebus Karbon?

Tebus Karbon (Carbon Offset/Kompensasi Karbon) merujuk pada tindakan untuk mengurangi atau mengimbangi emisi karbon yang dihasilkan dari suatu kegiatan dengan cara melakukan tindakan yang mengurangi emisi serupa atau menghilangkan jumlah karbon di atmosfer dalam skala yang setara. Ini adalah salah satu upaya untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Pada dasarnya, ketika suatu kegiatan manusia menghasilkan emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO2), yang berkontribusi terhadap pemanasan global, maka kompensasi karbon dilakukan untuk mengurangi dampak negatif tersebut. Biasanya, kompensasi karbon dicapai melalui investasi dalam proyek yang mengurangi atau menghilangkan emisi gas rumah kaca, seperti proyek energi terbarukan, efisiensi energi, pengelolaan limbah, atau proyek pemulihan hutan.

Contohnya, jika suatu perusahaan menghasilkan 1.000 ton emisi karbon dalam satu tahun, mereka dapat membeli kredit karbon yang setara dengan jumlah itu dari proyek yang mengurangi emisi sebesar 1.000 ton, seperti menanam dan memantau mangrove atau memasang panel surya di komunitas yang membutuhkan. Dengan cara ini, perusahaan tersebut mengkompensasi emisi karbon yang dihasilkan dengan mengurangi jumlah emisi di tempat lain.

Namun, penting untuk diingat bahwa kompensasi karbon sebaiknya bukan menjadi pengganti dari usaha untuk mengurangi emisi langsung. Langkah-langkah untuk meningkatkan efisiensi energi, mengadopsi teknologi yang lebih ramah lingkungan, dan mengubah perilaku yang menghasilkan emisi lebih rendah tetap harus menjadi prioritas utama dalam menghadapi perubahan iklim. Kompensasi karbon seharusnya digunakan sebagai langkah tambahan untuk mengimbangi emisi yang tidak dapat dihindari pada tahap ini.

C. Bagaimana Cara Mangrove Dapat Menebus Jejak Emisi Karbon?

Mangrove memiliki kemampuan alami untuk menyerap dan menyimpan karbon dioksida (CO2) dari atmosfer. Proses ini dikenal sebagai penyangga karbon. Mangrove adalah hutan rawa yang tumbuh di wilayah pantai di daerah tropis dan subtropis. Berikut adalah beberapa cara di mana mangrove dapat membantu menebus jejak emisi karbon:

  1. Penyerapan Karbon: Mangrove mampu menyerap dan menyimpan karbon lebih banyak (sekitar lima kali) daripada hutan lainnya. Pohon mangrove mengandung banyak karbon dalam batang dan akarnya serta di dalam tanah rawa tempat mereka tumbuh. Dengan menanam lebih banyak mangrove, jumlah karbon yang disimpan di ekosistem tersebut dapat meningkat.
  2. Mencegah Penggundulan Hutan: Mangrove yang kuat dan sehat dapat melindungi daerah pesisir dari abrasi dan badai. Ini berarti mangrove dapat membantu mencegah penggundulan hutan yang menyebabkan pelepasan besar-besaran karbon ke atmosfer.
  3. Mengurangi Pemanasan Global: Mengurangi emisi gas rumah kaca adalah langkah penting dalam mengatasi pemanasan global. Dengan menanam lebih banyak mangrove, kita dapat mengurangi jumlah CO2 di atmosfer, yang membantu mengurangi efek pemanasan global.
  4. Menyediakan Sumber Energi Terbarukan: Mangrove juga dapat menjadi sumber energi terbarukan. Pohon mangrove yang mati atau jatuh dapat digunakan sebagai biomassa untuk menghasilkan bioenergi. Dengan menggantikan sumber energi fosil dengan bioenergi dari mangrove, kita dapat mengurangi emisi karbon dari bahan bakar fosil.
  5. Memelihara Keanekaragaman Hayati: Mangrove adalah habitat yang penting bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewan. Memelihara keanekaragaman hayati ini penting untuk menjaga ekosistem yang sehat. Ekosistem yang sehat dapat menyimpan lebih banyak karbon dan memainkan peran penting dalam mengurangi emisi karbon.

Penting untuk dicatat bahwa penanaman mangrove dapat membantu dalam upaya menebus jejak emisi karbon, namun hal ini bukanlah satu-satunya solusi. Pengurangan emisi secara menyeluruh dan keberlanjutan dalam semua sektor juga diperlukan untuk mengatasi perubahan iklim secara efektif.

D. Kapan Mangrove akan Mulai Ditanam?

Mangrove mulai akan ditanam setelah MoU antara perusahaan Anda dan Mangrove Tag (IKAMaT) ditandatangani. Skema penanaman yang digunakan adalah 2/3 bibit mangrove ditanam di bulan pertama dan 1/3 lainnya ditanam di bulan ketiga.

Semua paket berdurasi empat bulan. Bulan pertama adalah penanaman, selanjutnya tiga bulan berikutnya adalah penyulaman, monitoring, evaluasi dan pemantauan mangrove. Kami juga menyediakan paket pemantauan mangrove lanjutan yang berdurasi multi tahunan.